Leave a Clean Handoff
Menutup sesi coding dengan branch state, evidence, risk, dan next action yang jelas.
Failure pattern
Agent selesai dengan patch, debug log tersisa, generated file berubah, test belum lengkap, dan catatan “mostly done.” Sesi berikutnya harus menebak mana yang intentional dan mana yang residue.
Incident: PR sebelum review
Agent memperbaiki invite acceptance. Patch utama bagus, tetapi ada console log, generated client diff, dan full auth suite belum dijalankan. Handoff hanya berkata “should be ready.”
Untuk reviewer, itu bukan handoff. Itu pekerjaan investigasi baru.
Harness principle
Clean handoff membuat sesi bisa direstart. Handoff harus mencatat current state, changed files, evidence, not done, known risks, residue, dan next action.
Operating practice
Handoff:
Current state:
- route patch complete
- focused invite test passes
Not done:
- full auth e2e suite
- staging-like verification
Residue:
- generated client diff appears pre-existing
Next action:
- confirm generated diff, then run full auth e2e
Bahasa ini bisa dilanjutkan tanpa menebak.
Coding-agent example
Harnessed agent tidak boleh menutup jika workspace state ambigu. Ia harus mengklasifikasi setiap residue: intentional change, temporary file removed, known unrelated diff, atau blocker.
Jika tidak bisa mengklasifikasi, tulis sebagai unknown. Unknown lebih baik daripada disembunyikan.
Common mistakes
Kesalahan pertama adalah memakai “mostly done.” Kesalahan kedua adalah tidak mencocokkan handoff dengan diff. Kesalahan ketiga adalah lupa next action.
Practical exercise
Ambil branch yang sedang berjalan. Tulis handoff yang membuat engineer baru bisa lanjut tanpa bertanya apa yang terjadi.
Key takeaways
- Handoff adalah bagian dari reliability.
- Branch state harus jujur.
- Next action membuat kerja panjang bisa restartable.