Make Context Discoverable
Membuat market data, factor definition, risk model, dan compliance note mudah ditemukan tanpa membanjiri context window.
Failure pattern
Quant agent gagal bukan hanya karena kurang context. Ia sering gagal karena context yang benar kalah oleh context yang lebih mudah ditemukan. Agent membaca factor definition lama, investment committee note yang sudah tidak berlaku, atau methodology draft yang belum pernah disetujui.
Context window bukan arsip. Jika semua dokumen dimasukkan sekaligus, agent tetap harus menebak mana yang authoritative. Harness yang baik membuat context discoverable: agent tahu di mana mencari, urutan authority, dan kapan harus berhenti karena source freshness tidak cukup.
Incident: Factor definition yang tertinggal
Agent diminta menjelaskan kenapa momentum strategy underperform bulan ini. Ia mengambil definisi momentum dari dokumen lama: 12-1 month return, sector neutral, monthly rebalance. Padahal risk team sudah memperbarui methodology: momentum sekarang menggunakan volatility-adjusted return, liquidity filter baru, dan weekly rebalance untuk sleeve tertentu.
Memo agent terlihat rapi, tetapi salah basis. Kesimpulannya menyalahkan crowding, padahal sebagian drawdown berasal dari methodology change.
Available surface
Repo knowledge quant biasanya tersebar:
| Context | Authority |
|---|---|
| Data dictionary | Definisi field dan freshness |
| Factor library docs | Formula factor yang aktif |
| Risk model notes | Exposure dan constraint |
| IC memo archive | Keputusan historis, bukan selalu current |
| Compliance notes | Batas output dan approval |
| Runbook | Cara menjalankan workflow |
Harness harus mengajarkan agent hierarchy ini.
Harness principle
Make context discoverable berarti agent tidak perlu membawa semua pengetahuan sekaligus. Ia diberi context ladder: mulai dari task brief, lalu index, lalu authoritative source, lalu supporting archive jika perlu.
Urutan ini penting. Agent harus tahu bahwa data dictionary terbaru mengalahkan notebook lama, approved methodology mengalahkan draft, dan compliance rule mengalahkan contoh memo yang terlalu agresif.
Operating practice
Buat context map kecil:
Jika task menyentuh factor:
1. baca factor index
2. ambil active definition
3. cek last-updated date
4. bandingkan dengan run config
5. catat source yang dipakai di memo
Setiap output harus menyebut source basis. Bukan untuk formalitas, tetapi supaya reviewer bisa tahu agent menjawab dari context yang benar.
Product-agent example
Dalam kasus drawdown momentum, harnessed agent akan menulis:
Context used:
- factor_library/momentum_v3.md, updated 2026-04-10
- risk_model/equity_us_v7.md
- run_config/momentum_sleeve_weekly.yaml
Ignored:
- ic_archive/2025_momentum_review.md karena methodology sudah superseded.
Catatan ini membuat kesalahan context terlihat sebelum memo dibahas.
Common mistakes
Kesalahan umum adalah memberi agent folder besar dan berkata “use the docs.” Itu search, bukan context engineering. Kesalahan lain adalah tidak membedakan historical context dan active policy.
Untuk quant agent, stale context bisa menghasilkan thesis yang salah walaupun reasoning terlihat logis.
Practical exercise
Buat context ladder untuk satu workflow: factor screen, backtest, risk review, atau memo drafting. Tandai source mana yang authoritative, stale, supporting, dan approval-only.
Key takeaways
- Context harus ditemukan lewat authority path, bukan volume.
- Source freshness adalah bagian dari harness.
- Agent harus mencatat context yang dipakai dan yang sengaja diabaikan.
Further reading / source notes
Bagian ini dipengaruhi riset tentang context window dan lost-in-the-middle, serta praktik data lineage dalam research system.